Kasus 60: Gigi Patah? Jangan Buru-Buru Cabut…..

Assallamualaikum….

Selamat pagiiii….

Alhamdulillah kita ketemu lagi hehehe…. Dari postingan terakhir udah setahun ya heheheh…. Kadang saya males banget mau pegang laptop atau mulai nulis, gak kerasa udah setahun aja 😀

Semoga teman-teman semua selalu sehat ya di era pandemi ini, tetap disiplin melakukan protokol kesehatan…. Tahun 2020 ini benar-benar membuat dampak di semua sektor ya, seluruh rencana seminar offline saya sepanjang 2020 cuma terlaksana sampai maret 2020 aja (terakhir tampil acara di Lombok) setelah itu semua cancel, sempat beberapa kali seminar online dan Hands On online aja….

Tapi gak papa kita harus tetap semangat ya, Insya Allaah tahun 2021 lebih baik…. aamiin…

Sebelum masuk ke cerita kasus saya ucapkan syukur kepada Allaah SWT yang telah memberikan banyak keindahan dalam hidup saya.. Terima kasih kepada orang tua saya yang telah membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang… Kepada istri dan anak-anak saya yang telah mendampingi dan memberikan support… Kemudian juga buat para staf pengajar di almamater saya yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat..

Masuk ke topik hari ini…..

Banyak pasien yang sering whatsapp saya atau DM instagram mengenai gigi depan yang patah…. Kebanyakan menanyakan apakah harus dicabut atau pasang crown. Begitupun banyak juga teman sejawat yang menanyakan kapan kita harus pasang crown dan kapan kita tambal langsung aja.

Dari pertanyaan yang sering saya terima itu pas banget nih ada kasus yang saya dapat ketika praktek. Pasien wanita usia sekitar 25 tahun datang dengan keluhan giginya patah setelah kecelakaan motor.

Saat datang kondisi giginya seperti ini

Foto klinis saat pasien datang

Gigi 21 patah kira-kira separuh mhkota, tidak terlihat pulpa terbuka secara klinis. Perkusi tidak ada respon, tes dingin pasien memberikan respon. Kesimpulan pulpa masih vital.

Pada kasus seperti ini saya akan memilih melakukan restorasi direk dengan alasan bila saya lakukan restorasi indirek yaitu crown maka saya harus mengurangi lagi struktur gigi yang sudah tinggal sedikit tersebut dan hal itu bisa menimbulkan sensitifitas pada pasien. Bila tidak tidak ingin timbul hal tersebut maka pilihannya gigi itu harus dilakukan perawatan saluran akar. Hal tersebut terlalu invasif menurut saya dan sayang juga giginya masih vital.

Setelah saya jelaskan kondisi dan rencana perawatan beserta alternatif2nya pasien setuju untuk dilakukan penambalan langsung. Gigi saya anestesi lokal untuk kenyamanan pasien saat prosedur dilakukan. Setelah itu saya pasang rubberdam, dan tepi fraktur saya bevel agar peralihan bahan tambal dengan gigi tidak terlihat.

Untuk proses penambalan saya melakukan tehnik free hand yaitu hanya menggunakan alat bantu mylar strip atau seluloid strip yang ditahan menggunakan jari telunjuk tangan kiri.

Posisi mylar strip saat penambalan

Pada kasus fraktur seperti ini terlebih dulu membuat tatakan palatal atau palatal shell, dilanjutkan pembuatan dinding proksimal, semuanya diselesaikan hanya dengan alat bantu mylar strip itu tadi.

Palatal shell dibuat setipis mungkin agar saturasi warnanya tidak mengganggu hasil akhir dari shade penambalan kita, begitupun dengan dinding proksimalnya

Begini kondisi setelah selesai membuat palatal shell dan dinding proksimal

Palatal shell dan dinding proksimal

Kemudian mulai meletakkan komposit dengan jenis yang agak opaque untuk bagian dentin, peletakkannya sampai ke bagian bevel yang kita buat dengan memperhatikan sisa ruang untuk komposit bagian email. Pada saat penambalan perlu juga melihat gigi sebelahnya dan usahakan untuk melihat kesimestrisan dari kecembungan bagian labial dengan gigi sebelahnya.

Setelah selesai, contouring awal menggunakan pemoles berbentuk disc, dan untuk polishing bisa menggunakan bentuk apapun. Lakukan dengan tekanan ringan dan jangan terlalu ditekan untuk mendapatkan hasil pemolesan yang halus dan mengkilap.

Ini dia hasil akhirnya….

Hasil akhir penambalan

Alhamdulillaah pasien puas dengan hasilnya… dan tentu kita juga harus pesankan ke pasien bahwa gigi tersebut kekuatannya tentu beda dengan gigi masih sehat, jadi hati-hati ketika menggigit makanan.

Nah jadi segitu dulu untuk sharing kasusnya… Mudah2an bisa menjadi salah satu referensi buat sejawat ketika menghadapi kasus yang sama

Buat pasien2 yang ingin konsul ke saya atau buat teman2 sejawat yang ingin mengkonsulkan pasien, atau yang mau datang ngobrol2, saya bisa ditemui disini….

atau bisa dilihat langsung klik disini.

Bisa juga cek lokasi praktek dimana aja dan nomer kontak saya di akun Instagram @rintoabimanyu

Teman2 yang belum bergabung di Run ForwaRd ayo lekas bergabung untuk bisa dapat info, sharing, atau diskusi mengenai kasus2 di kedokteran gigi, tapi hanya khusus buat dokter gigi dan yang bergerak di bidang usaha kedokteran gigi aja ya 🙂 … , silahkan langsung klik link berikut

Sampai ketemu lagi di cerita kasus berikutnya ya….

Wassallamualaikum….

Advertisement
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kasus 60: Gigi Patah? Jangan Buru-Buru Cabut…..

  1. Drg Ira Reggy says:

    Superrr deh, Rinto👍👍👍
    Btw maaf mau tanya utk palatal shell nya lbh baik pake composite flow atw yg padat ya ? Atau mix flow + padat ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s